Februari 08, 2009

Wedding Day...............



-->
Assalamu'alaikum to all..................
Baru saja kuhadiri undangan pernikahan sahabatku (Nyimas Fatmawati), begitu cantik dan gagahnya kedua mempelai di singasana seharinya dengan nuansa penuh warna merah, bahkan mungkin mereka belum berpikir metode apa yang akan dipakai (kaya mo melakukan penelitian aja yah pake metode, he............) untuk memulai mengarungi hari – hari selanjutnya menjalani kebersamaanya itu, nah ! itulah hal yang paling sulit, menyatukan dua kepribadian dalam kebersamaan seperti janji pernikahannya dihadapan “ALLOH”, btw :
" Luck and wishes for you, Sist .....! have a happy married life, be happy, be loving, be true n be forever. GBU "
terlepas semua kebahagian itu, dan siapa yang telah menjalani perjalanan perkawinannya ada hal yang perlu disampaikan dan dipahami juga dimengerti akan makna ayat suci Al-qur’an yang ada hampir disetiap undangan pernikahan seperti tertulis dibawah ini :
”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untuk kalian dari anfus (jiwa-jiwa) kalian sendiri, azwaj (pasangan hidup), supaya kalian ber-sakinah kepadanya dan dijadikan-Nya diantara kalian mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Q.S. Ar-Ruum : 21)
Itulah sebuah ayat dalam Al Quran yang seringkali ditulis dengan tinta emas di atas undangan sebuah pernikahan. Namun sedihnya, banyak diantara mereka termasuk juga denganku yang tidak mengetahui makna dari ayat suci ini. Ternyata ayat ini menerangkan metode yang seharusnya kita jadikan plot (alur) dalam merayakan cinta dan kebahagian. Singkatnya, ada beberapa kata kunci yang ada pada ayat ini :
@ Min Anfusikum Dari jiwa-jiwa kalian. Artinya, hal pertama yang dibicarakan Al-Quran tentang pernikahan dua manusia adalah kesejiwaan. Ruh itu, kata Nabi, seperti tentara. Jika kodenya sama, sandinya akan tersambung, meskipun belum saling melihat mereka pasti sepakat. Jika tidak, ya tembak dulu, urusan belakang. Sandinya saja sudah nggak nyambung. Nah, apa sih kode dan sandi untuk ruh? Komitmen kepada Allah dan agamanya. Itu saja. Itulah kesejiwaan
@ Azwaajan Pasangan hidup. Tak berlama-lama sesudah kesesuaian jiwa, Al Quran segera mengatakan bahwa mereka harus menjadi pasangan (suami istri) Banyak orang yang berpikir mereka harus mencari pasangan yang tepat agar hubungannya berhasil. Namun berpikirlah sebaliknya, berhentilah mencari orang yang tepat, dan jadikan orang yang disamping kita yang memang hebat itu menjadi orang yang tepat! Jadilah manusia yang lebih tinggi, yaitu manusia yang ”menjadikan”, bukan sekedar ”mencari”.
@ Litaskunuu ilaihaa Supaya kalian tenteram, tenang padanya. Unik sekali. Kata hubung yang dipakai adalah huruf lam (”li”) yang menunjukkan otomatis. Kata Allah, kalau pernikahan dimulai dari kesejiwaan, maka otomatis seorang suami akan merasakan ketentraman pada istrinya, dan seorang istri akan merasakan ketenangan pada suaminya. Lalu, kenapa banyak rumah tangga yang tidak sakinah? Mungkin karena tidak dimulai dari kesejiwaan sehingga untuk sekedar tentram saja ikhtiarnya harus luar biasa keras. Apa sih sakinah itu? Sederhananya, sakinah inilah yang menyebabkan pernikahan disebut separuh agama seseorang. Dengannya seorang insan bisa mengoptimalkan potensinya untuk menjadi ’Abdullah (hamba Allah), dan khalifah (pengelola nikmat-nikmatNya untuk kemaslahatan alam semesta). Tenteram karena gejolak syahwat telah menemukan saluran yang halal dan thayyib, tenang karena ada sahabat sejati yang siap mendukung perjuangan.
@ Waja’ala bainakum mawaddatan Kemudian ada yang harus diproses, diupayakan, yakni mawaddah. Apa itu mawaddah? Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris memang kekurangan kosa kata untuk cinta. Hanya cinta dan love. Padahal bahasa Arab memiliki 14 istilah untuk cinta. Jika kita membandingkan pemaknaan Ibnul Qayyim Al Jauziyah terhadap mawaddah dalam buku Raudhotul Muhibbiin (Taman Orang-orang Yang Jatuh Cinta) dengan salah satu jenis cinta yang disebut Erich Fromm dalam The Art Of Loving sebagai cinta yang erotis-romantis. Nah, ternyata bisa disejajarkan. Jadi mawaddah adalah cinta yang erotis-romantis. Bentuknya bisa ekspresi yang paling batin sampai paling zahir, dari yang sifatnya emosional hingga seksual. Inilah mawaddah.
@ Wa (ja’ala bainakum) rahmatan Yang harus diusahakan bukan cuma mawaddah tapi juga rahmah. Ini juga termasuk cinta, bukan sekedar kasih sayang. Cinta yang bagaimana? Inilah cinta yang memberi (bukan meminta), berkorban (bukan menuntut), berinisiatif (bukan menunggu), dan bersedia (bukan berharap-harap).
Semoga bermanfaat ....... ! Wassalam
Source :
  • Fenomena Ayat-ayat Cinta, Anif Sirsaeba El Shirazy.
  • Raudhotul Muhibbiin, Ibnul Qoyyim Al Jauziyah.
  • The Art Of Loving, Erich Fromm.
Note : Untuk teman dan sahabat yang akan menggenapkan separuh diennya, semoga senantiasa diberikan keberkahan dan kemudahan dari Alloh SWT

Tidak ada komentar: