Oktober 25, 2008

WALIKOTA DAN WAKIL WALIKOTA BOGOR : Jabatan adalah Amanah


Sabtu, ya hari ini 3hari aku tidak keluar untuk beraktivitas karena sejak rabu kemarin, aku kembali sakit, jika kupaksakan untuk beraktivitas pasti akan merepotkan teman seperjalananku, karena jika sedang kambuh sakitku, tubuh ini seakan melayang akan roboh jika buat berdiri or berjalan. So, 3 hari kemarin benar-benar beristirahat dan berbaringan.

Ketika pagi tadi saat aku duduk terpaku di teras depan, hingga tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi, tapi mengapa disekitar tempatku tinggal masih begitu sepi, lalu baru aku tersadar bahwa pagi ini dimulainya pemilihan Calon Walikota dan Wakil Walikota Bogor untuk periode kedepan, ya sejak pagi tadi untuk kegiatan tersebut sudah diumumkan lewat pengeras suara dari mushola dekat tempatku tinggal, juga petugas keamanan yang mengingatkan pada setiap warga setempat untuk tidak lupa memberikan hak pilihnya.

Sayang, itu tidak berlaku bagiku, mungkin sejak tahun 1994 aku sebagai warga negara tidak memberikan hak pilihnya setiap kali ada kesempatan, baik itu pemilihan Presiden, gubernur, walikota dan lainnya, itu dikarenakan statusku sebagai “kontraktor” alias berpindah tempat tinggal karena saat ini aku baru mampu mengontrak rumah, Insya Allah, Allah tunjukkan jalan rizki buatku mempunyai tempat tinggal sendiri (amiin), hal tersebut sempat menimbulkan rasa bersalah pada diriku sebagai warga negara yang mempunyai tanggung jawab untuk mempergunakan hak pilihnya, hal ini pun terjadi pada pemilihan walikota dan wakilnya di Kotaku tinggal (Bogor)hari ini, lagi2 aku tidak mempergunakan hak pilihnya

Namun, lambat laun rasa bersalah itu membias sendiri seiring dengan waktu yang berjalan. Fenomena di kalangan birokrat dalam memperebutkan tampuk pimpinan yang tertinggi (Presiden, gubernur, mentri, bupati. Lurah, camat, caleg, dll) kadang sudah tidak lagi memakai akal sehat, cara apapun digasaknya, baik lewat partai maupun lewat jalur independen, pasti selalu menimbulkan reaksi, baik itu negatif maupun positif. Namun terlepas apapun reaksi yang timbul, bagiku yang tidak pernah tertarik pada politik di negri ini tidak ambil pusing dibuatnya, meskipun setiap hari ada saja berita mengenai hal tersebut.

Sangat ironis jika melihat fenomena diatas, sadarkah mereka (para calon pemimpin) bahwa berebut pimpinan = berebut amanah amanah, Jika mereka sadar tentunya mereka tahu akan konsekuensi menjadi seorang pemimpin, khususnya pemimpin dalam perspektif agama Islam
Dalam perspektif agama Islam, amanah memiliki makna dan kandungan yang luas, di mana seluruh makna dan kandungan tersebut bermuara pada satu pengertian bahwa setiap orang merasakan bahwa Allah SWT senantiasa menyertainya dalam setiap urusan yang diberikan kepadanya, dan setiap orang memahami dengan penuh keyakinan bahwa kelak ia akan dimintakan pertanggung jawaban atas urusan tersebut.

Dalam bahasa Arab, kata amanah dapat diartikan sebagai titipan, kewajiban, ketenangan, kepercayaan, kejujuran dan kesetiaan. Dari pengertian bahasa dan dari pemahaman tematik al-Qur’an dan hadits, amanah dapat difahami sebagai sikap mental yang di dalamnya terkandung unsur kepatuhan kepada hukum, tanggung jawab kepada tugas, kesetiaan kepada komitmen, keteguhan dalam memegang janji.

Subhanallah, Maha Suci Allah ! yang telah mengatur segala hal yang dikerjakan oleh umatnya yang semuanya itu tertuang dalam Al-qur’an dan hadis2nya baik itu cara mengatur negara, keluarga, cara berperang (berpolitik) dll, dan betapa kita sebagai umatnya tinggal mengikutinya. Namun sayangnya, banyak dari pimpinan kita yang bila telah terpilih lupa akan hal tersebut (AMANAH)

Karenanya, tulisanku disini untuk mengingatkan kembali pengertian amanah, khususnya menyangkut para pimpinan kita dalam perspektif Islam.

Dalam Islam, amanah ada pada setiap orang. Setiap orang memiliki amanah sesuai dengan apa yang dibebani kepadanya. Rasulullah SAW bersabda :“Masing-masing kalian adalah pemimpin, dan masing-masing kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya, seorang imam adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya, seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya, dan dia akan ditanya tentang kepemimpinannya, seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya, dan seorang pembantu adalah pemimpin dalam memelihara harta tuannya dan ia akan ditanya pula tentang kepemimpinannya”. (HR Imam Bukhari).

Bagi seorang muslim, amanah adalah sebuah kewajiban yang harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Rasulullah mengajarkan seorang muslim untuk saling mewasiati dan memohon bantuan kepada Allah SWT dalam menjaganya, bahkan ketika seseorang hendak bepergian sekalipun setiap saudaranya seharusnya mendoakannya : “Aku memohon kepada Allah SWT agar Ia terus menjaga agama engkau, amanah dan akhir amalan engkau”. (HR Imam Tirmidzi).

Yang menanggung amanah

Dalam Al-qur’an telah diatur dasar-dasar pemerintahan sebagaimana firmanNYA :
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu(seorang muslim) untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya dan menyuruh kamu apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah member pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS An Nisa : 58).

Untuk menentukan siapa orang yang berhak dan sanggup menerima suatu amanah, kita diberikan perdoman oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW. Orang tersebut haruslah kompeten. Rasulullah SAW bersabda :“Bila amanah disia-siakan, maka tunggulah kehancurannya”. Sahabat bertanya, “ Bagaimana bentuk penyia-nyiaannya?”. Beliau bersabda, “Bila persoalan diserahkan kepada orang yang tidak berkompeten, maka tunggulah kehancurannya” ”. (HR Bukhari dan Muslim).

Kompetensi ini hendaknya bersifat menyeluruh. Kompetensi ini bukan sekedar keahlian dibidang yang akan dibebani kepadanya, tapi juga mencakup kedekatannya dengan Allah dan baiknya sifat yang dimilikinya. Kompetensi inilah yang dipunyai oleh Nabi Yusuf AS, seorang Nabi yang sangat dekat kepada Allah, bersifat amanah, dan memiliki keahlian di bidangnya. Hal ini diabadikan dalam Al Quran :“Berikanlah aku jabatan dalam memelihara hasil bumi, sesungguhnya aku ini adalah orang yang amanah dan berilmu”. (QS Yusuf : 55).

Kompetensi menyeluruh inilah yang harus dikedepankan. Kita tidak boleh memilih pemimpin karena pertimbangan hawa nafsu dan kekerabatan (nepotisme). Jika hawa nafsu dan kekerabatan yang dikedepankan, maka kita telah melakukan sebuah pengkhianatan yang besar. Khianat kepada Allah, Rasul dan orang-orang beriman. Rasulullah SAW menegaskan :“Barang siapa mengangkat seseorang berdasarakan kesukuan atau fanatisme, sementara di sampingnya ada orang lain yang lebih disukai Allah dari padanya, maka ia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman”, (HR Imam Al-Hakim)

Menunaikan amanah

Indopos, Minggu, 23 Mar 2008 (Kurniawan Muhammad) : Dalam sebuah riwayat diceritakan, suatu ketika Imam Al Ghazali bercengkerama dengan murid-muridnya. Seperti biasa, di saat santai itu, dia kerap melontarkan pertanyaan, sambil menguji murid-muridnya.

“Apa yang paling berat di dunia ini?” tanya Al Ghazali.
Murid pertama: “Baja“.
Murid kedua: “Besi”
Murid ketiga: “Gajah”
Murid keempat: “Gunung”
Jawaban-jawaban ini membuat Al Ghazali tersenyum. “Semua jawaban itu benar, tapi kurang tepat.”
Kata Al Ghazali, yang paling berat di dunia ini adalah memegang AMANAH.

Dari ilustrasi diatas dapat disimpulkan bahwa betapa beratnya tanggung jawab yang akan dipikul bagi seseorang yang diberikan amanah, tidak serta merta membuat orang tersebut boleh lari dari kewajiban menunaikan amanah. Jika amanah dipercayakan kepadanya karena kompetensinya, maka ia wajib menunaikannya sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang diserahi kekuasaan urusan manusia lalu menghindar (mengelak) melayani kaum lemah dan orang-orang yang membutuhkannya, maka Allah tidak akan mengindahkannya pada hari kiamat.”(HR. Ahmad).

Orang yang diberikan amanah akan mendapatkan kebaikan yang banyak jika menunaikan amanah dengan baik, pun akan mendapatkan keburukan yang banyak jika amanah di khianati. Seorang mukmin menyadari hal ini, karenanya ia akan menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya. Karenanya Allah berfirman :“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS Al Anfal : 27).

Pentingnya menunaikan amanah dalam Islam, hingga dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal, sahabat Anas bin Malik berkata bahwa Rasulullah tidak pernah berkhutbah untuk para sahabat kecuali beliau bersabda :“Tidak ada keimanan bagi orang yang tidak memiliki amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak pandai memeliharanya”.

Dengan menulis kembali ulasan diatas, tidak adalagi alasan bagiku untuk merasa bersalah karena seringkali tidak menggunakan hak pilihku dalam memilih calon Pemimpin apapunn, justru akan lebih merasa bersalah jika aku menggunanakan hak pilihku dan ternyata salah, karena pemimpin terpilih tidak dapat dengan benar menunaikan AMANAHNYA.

Semoga tulisan yang disarikan kembali dari berbagai bacaan on-off line ini dapat berguna bagi semua pihak, khususnya bagi yang senang memperebutkan tampuk pimpinan di negri ini.

Wassalam

2 komentar:

Hanggadamai`s entreprenur mengatakan...

untuk gabung dengan komunitas blogger bogor silahkan lihat ini:
http://blogor.org/faq/
Kita tidak ada iuran atau apapun kok bu..

DiMi mengatakan...

Terima kasih untuk tanggapannya, Mas semoga tulisan saya dapat berguna bagi orang lain, khususnya saya sendiri.